Minggu, 13 Mei 2012

HARRY POTTER DAN TAWANAN AZKABAN ( 10 )

10. Peta Perampok


MADAM POMFREY bersikeras Harry tinggal di rumah sakit selama akhir minggu itu. Harry tidak membantah maupun mengeluh, tetapi dia tidak mengizinkan Madam Pomfrey membuang serpihan sisa Nimbus Dua Ribu-nya. Harry tahu sikapnya itu bodoh, tahu bahwa Nimbus-nya tak mungkin direparasi, tetapi dia tak tega. Dia merasa seakan kehilangan seorang teman baiknya.
Pengunjung tak henti-hentinya datang, semua ingin menghiburnya. Hagrid mengiriminya seikat bunga earwiggy yang berbentuk seperti kol kuning dan Ginny Weasley, dengan wajah merah padam, datang membawa kartu ucapan semoga lekas sembuh buatannya sendiri. Kartu itu bernyanyi nyaring, kalau tidak ditindih Harry dengan mangkuk buah-buahannya. Tim Gryffindor menengoknya lagi pada hari Minggu pagi, kali ini disertai Wood, yang memberitahu Harry dengan suara hampa tak bersemangat, bahwa dia sama sekali tidak menyalahkannya. Ron dan Hermione hanya meninggalkan sisi tempat tidur Harry di malam hari. Tetapi apa pun yang dikatakan atau dilakukan teman-temannya tak bisa membuat Harry merasa lebih baik, karena mereka hanya tahu separo dari apa yang menyusahkannya.
Dia belum memberitahu siapa pun tentang Grim, bahkan Hermione dan Ron pun tidak, karena dia tahu Ron akan panik dan Hermione akan mencemooh. Kenyataannya Grim itu telah menampakkan diri dua kali, dan kemunculannya dua-duanya diikuti oleh kecelakaan-nyaris-fatal. Yang pertama, dia nyaris tergilas oleh Bus Ksatria. Yang kedua, dia terjatuh dari sapunya dari ketinggian lima belas meter. Apakah si Grim akan terus menghantuinya sampai dia betul-betul mati? Apakah dia akan menghabiskan sisa hidupnya menoleh-noleh terus, melihat kalau-kalau ada binatang itu?
Lalu masih ada lagi Dementor. Harry merasa mual dan dipermalukan setiap kali teringat pada Dementor. Semua orang mengatakan Dementor mengerikan, tetapi tak ada yang pingsan setiap kali mereka berada di dekatnya… tak ada yang mendengar gaung suara orangtua mereka yang akan meninggal di dalam kepala mereka.
Karena sekarang Harry tahu suara siapa yang berteriak itu. Dia sudah mendengar kata-katanya, mendengarnya lagi berkali-kali di rumah sakit di malam hari, saat dia berbaring terjaga, memandang cahaya awan di langit-langit. Ketika para Dementor mendekatinya, dia mendengar saat-saat terakhir ibunya, usahanya untuk melindunginya dari Lord Voldemort dan tawa Voldemort sebelum dia membunuh ibunya… Harry tertidur. Tidurnya gelisah, disela mimpi-mimpi penuh tangan basah membusuk dan ratapan penuh ketakutan. Harry tersentak terbangun dan kembali memikirkan suara ibunya.
Sungguh melegakan kembali pada kebisingan dan hiruk-pikuk sekolah pada hari Senin-nya. Harry mau tak mau memikirkan hal-hal lain, walaupun dia terpaksa menerima ejekan Draco Malfoy. Malfoy senang sekali Gryffindor kalah. Dia akhirnya membuka perbannya dan merayakan kesembuhannya dengan menirukan cara Harry terjatuh dari sapunya dengan amat bersemangat. Malfoy melewatkan banyak waktu dalam pelajaran Ramuan berikutnya dengan berpura-pura jadi Dementor dari seberang ruangan. Ron akhirnya tak tahan lagi. Dia melemparkan hati buaya yang besar dan licin ke arah Malfoy, tepat mengenai mukanya, menyebabkan Snape mengurangi lima puluh angka dari Gryffindor.
"Kalau Snape mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam lagi, aku tidak masuk karena sakit," kata Ron, ketika mereka menuju kelas Lupin sesudah makan siang. "Cek dulu siapa yang di dalam, Hermione."
Hermione mengintip dari pintu.
"Oke!"
Profesor Lupin sudah mengajar lagi. Kelihatannya memang dia baru sakit. Jubah usangnya tampak gedombrongan dan ada lingkaran-lingkaran hitam di bawah matanya. Meskipun demikian, dia tersenyum kepada murid-muridnya ketika mereka duduk dan langsung ramai berkeluh kesah tentang sikap Snape selama Lupin sakit.
"Sungguh tidak adil, dia kan cuma guru pengganti, kenapa dia memberi PR?"
"Kami sama sekali tidak tahu-menahu tentang manusia serigala…"
"…dua gulung perkamen!"
"Apakah kalian memberitahu Profesor Snape kita belum mempelajarinya?" Lupin bertanya, dahinya mengernyit.
Celoteh ramai terdengar lagi.
"Ya, tapi dia bilang kami ketinggalan…"
"…dia tak mau dengar…"
"…dua gulung perkamen!"
Profesor Lupin tersenyum melihat kemarahan di wajah semua muridnya.
"Jangan khawatir. Aku akan bicara dengan Profesor Snape. Kalian tidak perlu membuat karangan itu."
"Yaaah…" kata Hermione kecewa. "Aku sudah selesai mengerjakannya!"
Pelajaran berlangsung amat menyenangkan. Profesor Lupin membawa kotak kaca berisi Hinkypunk, makhluk berkaki satu yang kelihatannya terbuat dari kepulan asap, tampaknya rapuh dan tak berbahaya.
"Memikat pengelana ke tanah berlumpur," kata Profesor Lupin sementara mereka mencatat. "Kalian perhatikan lentera yang tergantung di tangannya? Berayun naik-turun di depan—orang-orang akan mengikuti cahayanya—kemudian…"
Si Hinkypunk mengeluarkan bunyi decap mengerikan pada dinding kacanya.
Ketika bel berdering anak-anak mengumpulkan barang-barang mereka dan berjalan ke pintu, termasuk Harry, tetapi…
"Tunggu, Harry," panggil Lupin. "Aku mau bicara denganmu."
Harry masuk dan mengawasi Profesor Lupin menyelubungi kotak kacanya dengan kain.
"Aku sudah dengar tentang pertandingan itu," kata Lupin, berbalik ke mejanya dan memasukkan buku-buku ke dalam tasnya, "dan aku ikut sedih mendengar tentang sapumu. Ada kemungkinan dibetulkan?"
"Tidak," kata Harry. "Pohon itu menghajarnya sampai hancur berkeping-keping."
Lupin menghela napas.
"Mereka menanam Dedalu Perkasa itu pada tahun yang sama dengan kedatanganku di Hogwarts. Anak-anak dulu membuat permainan, mencoba mendekat sampai bisa menyentuh batangnya. Pada akhirnya, seorang anak laki-laki bernama Davey Gudgeon nyaris kehilangan sebelah matanya dan kami dilarang dekat-dekat pohon itu. Tak ada sapu yang bisa bertahan melawannya."
"Apakah Anda mendengar tentang Dementor juga?" tanya Harry susah payah.
Lupin segera memandangnya.
"Ya, aku dengar. Kurasa tak ada seorang pun di antara kita yang pernah melihat Profesor Dumbledore semarah itu. Para Dementor itu sudah beberapa waktu resah… marah karena Dumbledore tidak mengizinkan mereka masuk ke halaman kastil… kurasa karena merekalah kau sampai terjatuh?"
"Ya," kata Harry. Dia ragu-ragu, dan kemudian pertanyaan yang ingin ditanyakannya terlontar begitu saja sebelum dia bisa menahan diri. "Kenapa? Kenapa mereka mempengaruhi saya seperti itu? Apakah saya…?"
"Tidak ada hubungannya dengan kelemahan," kata Profesor Lupin tajam, seakan dia bisa membaca pikiran Harry. "Dementor mempengaruhimu lebih hebat daripada orang lain karena ada horor di masa lalumu yang tidak dialami orang lain."
Secercah sinar matahari menerobos masuk kelas, menyinari rambut kelabu Lupin dan kerut-kerut di wajahnya yang masih muda.
"Dementor termasuk makhluk paling jahat yang ada di muka bumi ini. Mereka menduduki tempat-tempat yang paling gelap dan kotor, mereka senang pada kehancuran dan keputusasaan, mereka menyedot kedamaian, harapan, dan kebahagiaan dari udara di sekitar mereka. Bahkan Muggle merasakan kehadiran mereka, walaupun tak bisa melihatnya. Kalau kita berada terlalu dekat dengan Dementor, semua perasaan senang, semua kenangan membahagiakan, akan tersedot dari dalam diri kita. Kalau bisa, Dementor akan hidup darimu cukup lama sampai kau menjadi sesuatu seperti mereka—tak berjiwa dan jahat. Yang tersisa dalam dirimu hanyalah pengalaman-pengalaman terburuk dalam hidupmu. Dan pengalaman terburuk dalam hidupmu, Harry, cukup untuk membuat siapa saja terjatuh dari sapunya. Kau tak perlu malu."
"Kalau mereka mendekati saya…," Harry memandang ke meja Lupin, lehernya sakit seperti tersumbat "saya bisa mendengar Voldemort membunuh ibu saya."
Lupin membuat gerakan dengan tangannya seakan dia akan memegang bahu Harry, tetapi tak jadi. Sejenak hening, kemudian…
"Kenapa mereka harus datang ke pertandingan?" tanya Harry getir.
"Mereka lapar," kata Lupin dingin, menutup tasnya dengan keras. "Dumbledore tidak mengizinkan mereka masuk ke halaman sekolah, maka mereka kehabisan suplai manusia sebagai mangsa… kurasa mereka tak bisa menahan diri melihat begitu banyak orang di lapangan Quidditch. Semua kegairahan itu… emosi yang tinggi… bagi mereka itu berarti pesta pora."
"Azkaban pastilah mengerikan sekali," gumam Harry. Lupin mengangguk suram.
"Benteng itu berada di sebuah pulau kecil, jauh di tengah samudra, tetapi mereka tidak memerlukan tembok dan air untuk menahan para tawanannya. Mereka semua sudah terpenjara dalam kepala mereka sendiri, tak sanggup memikirkan satu hal pun yang menyenangkan. Sebagian besar dari mereka menjadi gila hanya dalam waktu beberapa minggu."
"Tetapi Sirius Black berhasil lobs dari mereka," kata Harry pelan. "Dia berhasil kabur…"
Tas Lupin merosot dari meja. Dia harus membungkuk cepat-cepat untuk menangkapnya.
"Ya," katanya, seraya tegak kembali. "Black pastilah menemukan cara untuk melawan mereka. Walaupun menurutku itu tak mungkin… Dementor kabarnya menyedot kekuatan penyihir sampai habis jika penyihir itu ditinggalkan terlalu lama bersama mereka…"
"Anda membuat Dementor di kereta api itu mundur" kata Harry tiba-tiba.
"Ada—beberapa pertahanan yang bisa digunakan," kata Lupin. "Tetapi hanya ada satu Dementor di kereta api. Semakin banyak mereka, semakin susah kita lawan."
"Pertahanan apa saja?" kata Harry segera. "Bisakah Anda mengajari saya?"
"Aku tidak berpura-pura menjadi ahli melawan Dementor, Harry… sebaliknya malah…"
"Tapi kalau Dementor-dementor itu datang ke pertandingan Quidditch lagi, saya perlu pertahanan untuk bisa melawannya…"
Lupin memandang wajah Harry yang penuh tekad, ragu-ragu sejenak, kemudian berkata, "Yah… baiklah. Aku akan mencoba membantumu. Tetapi harus tunggu sampai semester yang akan datang, kurasa. Banyak yang harus kuselesaikan sebelum liburan. Aku memilih waktu yang sangat tidak menguntungkan untuk sakit."
Adanya janji, pelajaran Anti-Dementor dari Lupin, pemikiran bahwa dia mungkin tak perlu lagi mendengar saat-saat kematian ibunya, dan kenyataan bahwa Ravenclaw menggilas Hufflepuff dalam pertandingan Quidditch pada akhir November, membuat perasaan Harry jauh lebih senang. Gryffindor akhirnya tidak tersisih dari ajang pertandingan, walaupun mereka tak boleh kalah lagi dalam pertandingan. Wood kembali dikuasai energi gilanya, dan melatih timnya dengan sama keras dan ketatnya di bawah siraman hujan yang dingin menusuk tulang yang berlangsung sampai Desember. Harry tak melihat tanda-tanda adanya Dementor di sekolah. Kemarahan Dumbledore tampaknya membuat mereka tetap berada di tempat jaga mereka di jalan-jalan masuk ke halaman sekolah.
Dua minggu sebelum semester berakhir, langit mendadak terang menyilaukan dan tanah berlumpur pada suatu pagi sudah berselimut salju berkilau. Di dalam kastil, suasana Natal sudah terasa. Profesor Flitwick, guru Jimat dan Guna-guna, sudah mendekorasi ruang kelasnya dengan lampu kelap-kelip yang ternyata peri-peri betulan yang beterbangan. Anak-anak semua senang merencanakan liburan mereka. Baik Ron maupun Hermione sudah memutuskan untuk tinggal di Hogwarts. Meskipun Ron mengatakan dia tinggal karena tak tahan melewatkan dua minggu bersama Percy, dan Hermione bersikeras dia perlu menggunakan perpustakaan, Harry tak bisa dibohongi. Mereka tinggal untuk menemaninya dan Harry sangat berterima kasih.
Betapa senangnya semua anak, kecuali Harry, ketika ternyata akan ada kunjungan ke Hogsmeade lagi pada akhir pekan terakhir semester.
"Kita bisa belanja semua keperluan Natal di sana!" kata Hermione. "Mum dan Dad pasti suka benang gigi rasa mint yang dijual di Honeydukes!"
Menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi satu-satunya anak kelas tiga yang tidak ikut lagi, Harry meminjam buku Sapu yang Mana dari Wood, dan memutuskan untuk melewatkan hari dengan membaca tentang berbagai merek sapu. Selama latihan Harry menaiki salah satu sapu sekolah, Bintang Jatuh yang Sudah tua, yang terbangnya sangat lambat dan menyentak-nyentak. Jelas dia perlu punya sapu baru sendiri.
Pada hari kunjungan ke Hogsmeade, Sabtu pagi, Harry mengucapkan selamat jalan kepada Ron dan Hermione, yang terbungkus mantel dan syal, kemudian berbalik menaiki tangga pualam sendirian, kembali ke Menara Gryffindor. Salju sudah turun di luar jendela, dan kastil kosong serta amat sepi.
"Psst-Harry!"
Harry menoleh, setengah jalan di koridor lantai tiga, dan melihat Fred dan George mengintipnya dari balik patung nenek sihir bongkok bermata satu.
"Kalian ngapain?" tanya Harry ingin tahu. "Kenapa kalian tidak ke Hogsmeade?"
"Kami mau memberimu sedikit kegembiraan sebelum pergi," kata Fred, mengedip misterius. "Sini…"
Fred mengangguk ke arah ruang kelas kosong di sebelah kiri patung bermata satu. Harry mengikuti Fred dan George masuk ke kelas itu. George menutup pintunya pelan-pelan, kemudian berbalik, berseri-seri memandang Harry.
"Hadiah Natal yang kami berikan lebih awal, Harry," katanya.
Fred menarik keluar sesuatu dari dalam mantelnya dengan penuh gaya dan meletakkannya di atas salah satu meja. Sehelai perkamen besar persegi yang sudah sangat lusuh tanpa tulisan apa pun. Harry, curiga pada Fred dan George yang suka mempermainkan orang, memandang perkamen itu. "Apa itu?"
"Ini, Harry, adalah rahasia kesuksesan kami," kata George, mengelus perkamen itu dengan sayang.
"Berat sekali bagi kami, menghadiahkannya padamu," kata Fred, "tetapi semalam kami memutuskan kau lebih memerlukannya daripada kami."
"Lagi pula, kami sudah hafal isinya," kata George, "Kami wariskan kepadamu. Kami sudah tidak membutuhkannya lagi."
"Dan apa gunanya untukku sepotong perkamen tua ini?" tanya Harry.
"Sepotong perkamen tua!" kata Fred, memejamkan mata sambil menyeringai seakan Harry sangat menghinanya. "Jelaskan, George."
"Begini… waktu kami kelas satu, Harry—masih kecil, tak ada yang dipikirkan, dan lugu…"
Harry mendengus. Dia meragukan apakah Fred dan George pernah menjadi anak lugu.
"…yah, lebih lugu daripada sekarang—kami mendapat kesulitan dengan Filch."
"Kami meledakkan Bom Kotoran Binatang di koridor, dan entah kenapa itu membuatnya marah…"
"Jadi kami digiring ke kantornya dan dia mengancam kami dengan bermacam hukuman…"
"…detensi…"
"…kuras perut…"
"…dan kami mau tak mau melihat salah satu laci di salah satu lemari lacinya yang diberi label Barang Sitaan dan Sangat Berbahaya."
"Pasti seru…," kata Harry, mulai tersenyum.
"Yah, bagaimana lagi?" kata Fred. "George mengalihkan perhatiannya dengan meledakkan Bom Kotoran Binatang lagi, sedang aku menarik terbuka laci itu dan kusambar—ini."
"Tidak separah kedengarannya kok," kata George. "Kami rasa Filch tidak pernah tahu cara menggunakannya. Tapi mungkin dia sudah curiga perkamen apa ini, kalau tidak tentu tidak disitanya."
"Dan kalian tahu bagaimana menggunakannya?"
"Oh, ya," kata Fred menyeringai. "Barang berharga ini mengajari kami jauh lebih banyak daripada semua guru di sekolah ini."
"Kalian membual," kata Harry, memandang perkamen usang itu.
"Tidak percaya?" kata George.
Dia mengeluarkan tongkatnya, menyentuh pelan perkamen itu dan berkata, "Aku bersumpah dengan sepenuh hati bahwa aku orang tak berguna."
Dan mendadak garis-garis tipis tinta menyebar seperti jaring labah-labah dari titik yang disentuh tongkat George. Garis-garis itu saling bergabung, bersilangan, menebar ke semua sudut perkamen, kemudian huruf-huruf bermunculan di bagian atas. Huruf-huruf hijau besar, meliuk-liuk, yang berbunyi:
Messrs Moony, Wormtail, Padfoot, dan Prongs Penyetor Bantuan untuk Para Pembuat-Keonaran Sihir dengan bangga mempersembahkan PETA PERAMPOK
Sungguh aneh nama Messrs atau tuan-tuan itu, karena moony bisa berarti bulan purnama, sedangkan ketiga nama lainnya masing-masing berarti ekor cacing, goblin, dan cabang tanduk rusa. Petanya sendiri menunjukkan detail Kastil Hogwarts dan halamannya. Tetapi yang paling menakjubkan adalah titik-titik kecil tinta yang bergerak-gerak di peta itu, masing-masing dengan label nama yang ditulis dengan huruf-huruf superkecil. Harry yang keheranan menunduk untuk membacanya. Titik di sudut kiri atas menunjukkan bahwa Profesor Dumbledore sedang berjalan hilir-mudik di dalam kantornya. Kucing si penjaga sekolah, Mrs Norris, sedang berkeliling mencari mangsa di lantai dua, dan Peeves si hantu jail sedang melayang-layang naik-turun di sekitar ruang piala. Dan ketika mata Harry menyusuri koridor-koridor yang sudah dikenalnya, dia melihat sesuatu yang lain.
Peta ini menunjukkan beberapa lorong yang belum pernah dimasukinya. Dan banyak di antara lorong itu rupanya menuju…
"Langsung ke Hogsmeade," kata Fred, menyusun salah satu di antaranya dengan jarinya. "Semuanya ada tujuh. Filch sudah tahu tentang yang empat ini…" dia menunjuk keempatnya, "…tapi kami yakin hanya kamilah yang tahu tentang yang ini. Jangan pedulikan yang di belakang cermin di lantai empat ini. Kami menggunakannya sampai musim dingin tahun lalu, tetapi kemudian runtuh-terblokir total. Dan kami duga tak pernah ada yang menggunakan yang ini, karena Dedalu Perkasa ditanam persis di depan jalan masuknya. Tetapi yang satu ini, ini langsung menuju gudang bawah tanah Honeydukes. Kami sudah sering kali menggunakannya. Dan seperti kauperhatikan, jalan masuknya tepat di depan kelas ini melewati punuk si nenek bermata satu."
"Moony, Wormtail, Padfoot, dan Prongs," George menghela napas, mengelus nama-nama di bagian atas peta. "Kami sungguh berutang budi kepada mereka."
"Orang-orang yang mulia, bekerja tak kenal lelah untuk membantu generasi baru pelanggar peraturan," kata Fred sungguh-sungguh.
"Betul," kata George tegas, "jangan lupa menghapusnya sesudah kau menggunakannya…"
"…kalau lupa, nanti semua orang bisa membacanya," kata Fred memperingatkan.
"Sentuh saja lagi dan bilang, 'Keonaran sudah terlaksana!' dan petanya akan kosong lagi."
"Jadi, Harry kecil," kata Fred yang menirukan Percy dengan persis sekali, "jangan nakal."
"Sampai ketemu di Honeydukes," kata George sambil mengedip.
Si kembar meninggalkan ruangan, keduanya nyengir puas.
Harry berdiri memandang peta menakjubkan itu. Dia melihat titik kecil Mrs Norris berbalik ke kiri dan berhenti untuk mengendus sesuatu di lantai. Jika Filch benar-benar tak tahu… dia sama sekali tak perlu melewati Dementor…
Meskipun demikian, sementara berdiri di sana, Harry teringat sesuatu yang pernah didengarnya diucapkan Mr Weasley.
Jangan pernah mempercayai sesuatu yang bisa berpikir sendiri, kalau kau tak bisa melihat di mana otaknya.
Peta ini salah satu benda sihir berbahaya seperti yang diperingatkan Mr Weasley… Bantuan untuk Para Pembuat-Keonaran Sihir… tetapi, Harry berdalih, dia cuma ingin menggunakannya untuk bisa ke Hogsmeade. Dia kan tidak ingin mencuri sesuatu atau menyerang orang… lagi pula Fred dan George sudah menggunakannya selama bertahun-tahun tanpa terjadi sesuatu yang mengerikan….
Harry menelusuri lorong rahasia yang menuju ke Honeydukes dengan jarinya.
Kemudian, mendadak saja, seakan mematuhi perintah, dia menggulung peta itu, menyelipkannya ke dalam jubahnya, dan berjalan ke pintu kelas. Dia membukanya beberapa senti. Tak ada orang di luar. Dengan sangat hati-hati, Harry berjingkat keluar dan menyelinap ke balik patung nenek sihir bermata satu.
Apa yang harus dilakukannya? Dikeluarkannya kembali petanya dan betapa herannya dia ketika melihat ada sosok tinta baru yang muncul, berlabel Harry Potter. Sosok itu berdiri tepat di tempat Harry berdiri, kira-kira di pertengahan koridor lantai tiga. Harry mengawasinya dengan teliti. Tubuh tinta kecilnya tampak sedang mengetuk-ngetuk si nenek sihir dengan tongkatnya yang kecil sekali. Harry cepat-cepat mengeluarkan tongkatnya yang sesungguhnya dan mengetukkannya pada si patung. Tak terjadi apa-apa. Kembali Harry melihat petanya. Telah muncul tulisan dalam lingkaran kecil seperti dalam komik. Tulisan itu berbunyi, "Dissendium ".
"Dissendium!" bisik Harry, mengetuk si nenek sihir lagi.
Punuk si patung langsung membuka, cukup lebar untuk dilewati orang yang kurus. Harry mengerling ke kedua ujung lorong, kemudian menyimpan kembali petanya, masuk ke dalam lubang, kepala lebih dulu, dan mendorong dirinya maju. Dia meluncur turun pada sesuatu yang rasanya seperti luncuran batu, lalu mendarat di tanah yang dingin dan lembap. Harry bangkit, memandang berkeliling. Gelap gulita. Dia mengangkat tongkatnya, menggumamkan, "Lumos!" dan melihat dia berada di lorong tanah yang sangat sempit dan rendah. Harry mengangkat, petanya, mengetuknya dengan ujung tongkatnya, dan bergumam, "Keonaran sudah terlaksana!" Gambar peta itu langsung hilang. Harry melipat perkamennya dengan hati-hati, menyelipkannya ke dalam jubahnya, kemudian—dengan jantung berdegup kencang saking bergairah bercampur takut—dia berjalan maju.
Lorong itu berkelok-kelok dan menikung, seperti liang kelinci raksasa. Harry bergegas, beberapa kali terhuyung karena jalan yang tidak rata, seraya memegangi tongkatnya di depannya.
Perlu waktu lama sekali, tapi pikiran akan bisa mengunjungi Honeydukes membuatnya bertahan. Setelah kira-kira satu jam berjalan, lorong itu mulai menanjak. Terengah, Harry bergegas, wajahnya panas, kakinya sangat dingin.
Sepuluh menit kemudian, dia tiba di kaki tangga batu tua yang menjulang di hadapannya, puncaknya tak kelihatan. Berhati-hati agar tak membuat suara Harry mulai menaikinya. Seratus anak tangga, dua ratus, dia sudah tak menghitung lagi ketika terus naik, hanya mengawasi kakinya… kemudian, mendadak, kepalanya membentur sesuatu yang keras.
Rupanya pintu tingkap. Harry menggosok-gosok puncak kepalanya sambil mendengarkan. Dia tak bisa mendengar suara apa pun dari atasnya. Dengan sangat perlahan, dia mendorong pintu tingkap itu, sampai terbuka dan mengintip dari tepinya.
Dia berada di gudang bawah tanah yang penuh peti dan kotak-kotak kayu. Harry memanjat keluar dari pintu tingkap dan menutupnya kembali—pintu itu menyatu sempurna dengan lantai yang berdebu sehingga tak mungkin orang tahu ada pintu tingkap di sana. Harry berjingkat pelan ke tangga kayu yang menuju ke atas. Sekarang dia bisa mendengar suara-suara, juga denting bel dan bunyi pintu membuka dan menutup.
Saat sedang berpikir apa yang sebaiknya dia lakukan, mendadak dia mendengar pintu terbuka tak jauh darinya. Ada yang akan turun.
"Dan ambil sekotak Siput Jeli, ya, ini sudah hampir habis…" terdengar suara seorang wanita.
Sepasang kaki menuruni tangga. Harry melompat ke balik peti yang sangat besar dan menunggu sampai langkah-langkah kaki itu lewat. Didengarnya pria itu menggeser-geser kotak-kotak di dinding di seberangnya. Belum tentu ada kesempatan sebaik ini lagi…
Cepat dan tanpa suara, Harry menyelinap dari tempat persembunyiannya dan menaiki tangga. Ketika menoleh, dia melihat punggung amat besar dan kepala botak berkilat terbenam dalam kotak. Harry tiba di pintu di puncak tangga, menyelinap masuk, dan ternyata sudah berada di balik konter Honeydukes—dia menunduk, merayap minggir, kemudian menegakkan diri lagi.
Honeydukes penuh sesak dengan murid-murid Hogwarts, sehingga tak ada yang menoleh dua kali memandang Harry. Dia menyelip-nyelip di antara mereka, memandang berkeliling, dan menahan tawa ketika membayangkan bagaimana ekspresi yang akan menebar di wajah Dudley jika dia bisa melihat di mana Harry sekarang.
Ada berak-rak permen yang menggiurkan yang tak mungkin bisa dibayangkan. Potongan-potongan krim nogat, permen kelapa merah muda bening, toffee besar-besar warna madu, beratus-ratus jenis cokelat yang berderet-deret rapi. Ada juga tong besar berisi Kacang Segala Rasa, dan tong lain berisi Kumbang Berdesing, permen melayang yang pernah disebut-sebut Ron. Di dinding lainnya ada permen-permen "Special Effects": Permen Karet Tiup Drooble (yang akan memenuhi ruangan dengan gelembung-gelembung biru yang menolak meletus selama beberapa hari), Benang Gigi Segar Rasa Mint yang licin, Merica Setan yang kecil-kecil hitam ("membuatmu bernapas api!"), Tikus Es ("dengar gigimu bergemeletuk dan mencicit!"), Pepermin Kodok yaitu permen pedas berbentuk kodok ("betul-betul melompat-lompat di dalam perutmu!"), permen pena bulu yang rapuh, dan permen yang meledak.
Harry menyelip di antara gerombolan anak kelas enam dan melihat papan yang tergantung di sudut toko paling jauh ("Rasa-rasa Aneh"). Ron dan Hermione berdiri di bawahnya, memandang senampan lolipop rasa darah. Harry menyelinap ke belakang mereka.
"Ih, tidak, Harry tak akan mau. Permen itu untuk vampir, kurasa," kata Hermione.
"Bagaimana kalau ini?" ujar Ron, mengulurkan stoples Kerumunan Kecoak ke bawah hidung Hermione.
"Jelas tidak mau," kata Harry.
Nyaris saja stoples itu jatuh dari tangan Ron.
"Harry!" jerit Hermione. "Apa yang kaulakukan di sini? Bagaimana-bagaimana kau…?"
"Wow!" kata Ron, kelihatan kagum sekali. "Kau sudah bisa ber-Apparate!"
"Tentu saja tidak," kata Harry. Dia merendahkan suaranya, agar tak seorang pun anak kelas enam bisa mendengarnya, dan bercerita tentang Peta Perampok kepada kedua sahabatnya.
"Bisa-bisanya Fred dan George tidak pernah memberikannya kepadaku!" kata Ron, berang. "Aku kan adik mereka!"
"Tetapi Harry tidak akan menyimpan peta itu!" kata Hermione, seakan ide ini menggelikan. "Dia akan menyerahkannya kepada Profesor McGonagall. Iya, kan, Harry?"
"Tidak!" kata Harry.
"Kau gila?" kata Ron, mendelik kepada Hermione.
"Menyerahkan benda sehebat itu?"
"Kalau kuserahkan, aku harus mengatakan dari mana aku mendapatkannya! Filch akan tahu Fred dan George mencurinya!"
"Tetapi bagaimana dengan Sirius Black?" desis Hermione. "Dia bisa saja menggunakan salah satu lorong dalam peta itu untuk memasuki kastil! Para guru harus tahu!"
"Dia tak mungkin masuk lewat lorong-lorong itu," kata Harry cepat-cepat. "Ada tujuh lorong rahasia di peta itu, kan? Fred dan George memperkirakan Filch sudah tahu empat di antaranya. Dan tiga lainnya—salah satunya sudah runtuh, jadi tak ada yang bisa melewatinya. Satunya lagi, di depan jalan masuknya ada pohon Dedalu Perkasa, jadi kau takkan bisa keluar dari situ. Dan yang baru saja kupakai—yah—susah untuk melihat jalan masuknya yang ada di gudang bawah tanah—jadi kecuali dia tahu lorong itu ada…"
Harry ragu-ragu. Bagaimana jika Black ternyata tahu akan adanya lorong itu? Tetapi Ron berdeham penuh arti dan menunjuk ke pengumuman yang ditempelkan di balik pintu toko permen itu.
ATAS PERINTAH KEMENTERIAN SIHIR
Para pelanggan diingatkan bahwa sampai ada pengumuman berikutnya, Dementor akan berpatroli di jalan-jalan di Hogsmeade setiap malam setelah matahari terbenam. Tindakan ini diambil untuk keamanan penduduk Hogsmeade dan akan dicabut setelah Sirius Black berhasil ditangkap. Karena itu dianjurkan agar Anda menyelesaikan belanja Anda jauh sebelum malam tiba.
Selamat Hari Natal!
"Paham?" kata Ron pelan. "Aku mau lihat Black mencoba memasuki Honeydukes dengan Dementor berkeliaran di seluruh desa. Lagi pula, Hermione, pemilik Honeydukes akan dengar kalau tokonya dimasuki orang. Mereka kan tinggalnya di atas toko!"
"Ya, tapi—tapi…" Hermione tampak berusaha keras mencari alasan lain. "Harry seharusnya tetap saja tak boleh ke Hogsmeade. Dia tak punya formulir izinnya! Kalau sampai ketahuan, dia akan mendapat kesulitan besar! Dan sekarang belum malam—bagaimana kalau Sirius Black muncul hari ini? Sekarang?"
"Dia pasti kesulitan mencari Harry dalam cuaca begini," kata Ron, mengangguk ke arah jendela bersekat kotak-kotak, ke arah salju tebal, yang berpusaran di luar. "Ayolah, Hermione, Natal kan sebentar lagi, Boleh dong Harry mendapat selingan."
Hermione menggigit bibirnya, kelihatan cemas sekali.
"Apa kau akan melaporkan aku?" Harry bertanya kepadanya sambil nyengir.
"Oh—tentu saja tidak—tapi, Harry…"
"Sudah lihat Kumbang Berdesing, Harry?" kata Ron, menariknya ke tong permen itu. "Dan Siput Jeli? Dan Cuka Meletup? Fred memberiku sebutir Cuka Meletup waktu aku berusia tujuh tahun—membuat lidahku berlubang. Aku masih ingat Mum menghajarnya dengan sapunya." Ron menerawang menatap kotak Cuka Meletup. "Mau tidak ya, Fred makan Kerumunan Kecoak kalau aku bilang itu kacang?"
Setelah Ron dan Hermione membayar semua cokelat dan permen yang mereka beli, mereka bertiga meninggalkan Honeydukes dan menerobos badai salju di luar.
Hogsmeade tampak seperti gambar di kartu Natal. pondok-pondok dan toko-toko kecilnya yang beratap ilalang diselimuti lapisan salju; di depan pintu-pintunya ada rangkaian holly yang melingkar dan untaian lilin sihir bergantungan di pepohonan.
Harry gemetar kedinginan. Dia tidak memakai mantel seperti kedua temannya. Mereka berjalan dengan kepala menunduk menentang angin. Ron dan Hermione berteriak bergantian dari balik syal mereka.
"Itu Kantor Pos…"
"Zonko di sana itu…"
"Kita bisa pergi ke Shrieking Shack…"
"Begini saja," kata Ron, giginya bergemeletuk, "bagaimana kalau kita minum Butterbeer di Three Broomsticks?"
Harry mau sekali. Angin bertiup kencang dan tangannya sudah beku. Maka mereka menyeberang jalan dan beberapa menit kemudian sudah memasuki tempat minum yang mungil itu.
Tempat itu padat sekali, bising, hangat, dan berasap. Seorang wanita montok berwajah manis sedang melayani serombongan penyihir kasar dan gaduh di konter.
"Itu Madam Rosmerta," kata Ron. "Aku yang beli minuman, ya?" dia menambahkan, wajahnya merona kemerahan.
Harry dan Hermione berjalan ke bagian belakang ruangan. Di sana, di antara jendela dan pohon Natal indah yang tegak di sebelah perapian, ada satu meja kecil kosong. Ron menyusul lima menit kemudian membawa tiga cangkir besar Butterbeer panas berbuih.
"Selamat Natal!" katanya riang, mengangkat cangkirnya.
Harry menghirup minumannya. Ini minuman paling lezat yang pernah dicicipinya. Minuman ini menghangatkan sekujur tubuhnya dari dalam.
Mendadak tiupan angin membuat rambutnya berkibar. Pintu Three Broomsticks terbuka lagi. Harry memandang lewat bibir cangkirnya dan tersedak.
Profesor McGonagall dan Flitwick baru saja memasuki tempat minum itu dalam pusaran butir-butir salju, segera diikuti oleh Hagrid, yang sedang asyik bicara dengan laki-laki pendek gemuk memakai topi hijau-jeruk limau dan jubah bergaris: Cornelius Fudge, Menteri Sihir.
Serentak Ron dan Hermione meletakkan tangan di atas kepala Harry, memaksanya turun dari kursi dan masuk ke kolong meja. Dengan Butterbeer masih menetes dari bibirnya, Harry meringkuk bersembunyi, memeluk cangkir kosongnya dan mengawasi kaki-kaki para guru dan Fudge bergerak ke arah konter, berhenti, dan kemudian berbelok dan berjalan lurus ke arahnya.
Di atasnya, Hermione berbisik, "Mobiliarbus!"
Pohon Natal di sebelah meja mereka terangkat beberapa senti dari lantai, melayang minggir, dan mendarat dengan bunyi pluk pelan di depan meja mereka, menyembunyikan mereka dari pandangan. Memandang melewati celah-celah dahan-dahan lebat di bagian bawah, Harry melihat empat pasang kaki kursi bergerak mundur dari meja persis di sebelah meja mereka, kemudian mendengar gumam dan desahan napas guru-guru dan Menteri Sihir sementara mereka duduk.
Berikutnya dia melihat sepasang kaki lain, memakai sepatu hijau toska bertumit tinggi, dan mendengar suara wanita.
"Gillywater botol kecil…"
"Pesananku," terdengar suara Profesor McGonagall.
"Empat cangkir mead panas…" Mead adalah minuman alkohol yang terbuat dari madu.
"Aku, Rosmerta," kata Hagrid.
"Sirop ceri dan soda, dengan es dan payung…"
"Mmm!" kata Profesor Flitwick, mendecapkan bibirnya.
"Jadi pesanan Anda pastilah rum currant merah ini, Pak Menteri."
"Terima kasih, Rosmerta manis," terdengar suara Fudge. "Senang sekali bertemu denganmu lagi. Pesanlah minuman untukmu sendiri. Ayo minum bersama kami…"
"Terima kasih banyak, Pak Menteri."
Harry melihat sepatu berkilau bertumit tinggi itu menjauh dan kembali lagi. Jantungnya berdegup kencang sekali. Kenapa tak terpikir olehnya bahwa ini akhir pekan terakhir semester untuk para guru juga? Dan berapa lama mereka akan duduk di situ? Dia perlu waktu untuk menyelinap kembali ke Honeydukes kalau mau kembali ke sekolah malam ini… Kaki Hermione di sebelahnya bergerak cemas.
"Nah, apa yang membawa Anda sampai ke leher hutan ini, Pak Menteri?" tanya Madam Rosmerta.
Harry melihat bagian bawah tubuh gemuk Fudge berputar di kursinya, seakan dia sedang mengecek kalau-kalau ada yang mencuri dengar. Kemudian dia berkata pelan, "Apa lagi kalau bukan Sirius Black? Kau pasti sudah dengar apa yang terjadi di sekolah, Hallowe'en yang lalu?"
"Saya memang mendengar desas-desus," Madam Rosmerta mengaku.
"Apa kau memberitahu seluruh rumah minum, Hagrid?" kata Profesor McGonagall jengkel.
"Apakah menurut Anda Black masih di sekitar sini, Pak Menteri?" bisik Madam Rosmerta.
"Aku yakin," ujar Fudge pendek.
"Tahukah Anda, para Dementor sudah menggeledah tempat minum saya ini dua kali?" kata Madam Rosmerta, dengan nada agak kesal. "Membuat semua pelanggan saya ketakutan… mereka membuat bisnis lesu, Pak Menteri."
"Rosmerta manis, aku juga sama tidak sukanya kepada mereka seperti kau," kata Fudge salah tingkah. "Tapi langkah ini diperlukan… tak menguntungkan, tapi mau apa lagi… Aku baru saja bertemu beberapa dari mereka. Mereka gusar terhadap Dumbledore—dia tak mengizinkan mereka masuk ke halaman sekolah."
"Pantasnya tidak," kata Profesor McGonagall tajam. Bagaimana kami bisa mengajar kalau horor itu berkeliaran di sekolah?"
"Dengar, dengar!" cicit Profesor Flitwick yang mungil, yang kakinya menggantung di atas lantai.
"Bagaimanapun juga," tangkis Fudge, "mereka berada di sini untuk melindungi kalian semua dari sesuatu yang jauh lebih buruk… kita semua tahu apa yang bisa dilakukan Black…"
"Tahukah kalian, aku masih sulit mempercayainya," kata Madam Rosmerta menerawang. "Dari semua yang menyeberang ke golongan Hitam, sama sekali tak terpikir olehku Sirius Black… Maksudku, aku masih ingat waktu dia masih murid Hogwarts. Kalau kalian memberitahuku setelah besar nanti dia akan jadi seperti ini, aku akan bilang kalian pasti kebanyakan minum."
"Yang kau tahu tak ada separonya, Rosmerta," kata Fudge tajam. "Hal paling buruk yang dilakukannya tak banyak diketahui orang."
"Hal paling buruk?" ujar Madam Rosmerta, suaranya penuh keingintahuan. "Lebih buruk daripada membunuh orang-orang malang itu, maksud Anda?"
"Betul," kata Fudge.
"Aku tak percaya. Apa yang bisa lebih buruk dari itu?"
"Kau bilang kau ingat waktu dia masih murid Hogwarts, Rosmerta," gumam Profesor McGonagall. "Ingatkah kau siapa sahabat baiknya?"
"Tentu saja," kata Madam Rosmerta seraya tertawa kecil. "Tak pernah melihat yang satu tanpa yang lain, kan? Mereka sering sekali berada di sini—ooh, mereka selalu membuatku tertawa. Kocak sekali mereka, Sirius Black dan James Potter!"
Cangkir Harry terjatuh dengan bunyi dentang keras. Rnl menendang Harry.
"Tepat," kata Profesor McGonagall. "Black dan Potter. Pimpinan gerombolan kecil mereka. Keduanya sangat pintar, tentu saja—luar biasa pintar, malah, tapi kurasa tak pernah kita punya sepasang pengacau seperti itu…"
"Entahlah," kekeh Hagrid. "Fred dan George Weasley bisa jadi saingan mereka."
"Kau bisa mengira Black dan Potter kakak-beradik!" celetuk Profesor Flitwick. "Tak terpisahkan!"
"Tentu saja mereka tak terpisahkan," komentar Fudge. "Potter mempercayai Black lebih dari semua temannya yang lain. Tak ada yang berubah ketika mereka lulus dan meninggalkan sekolah. Black menjadi pendamping pengantin pria ketika James menikahi Lily. Kemudian mereka menunjuknya sebagai wali Harry. Harry sama sekali tak tahu, tentu saja. Bayangkan, betapa tersiksanya dia kalau sampai tahu."
"Karena Black ternyata bergabung dengan Kau-Tahu-Siapa?" bisik Madam Rosmerta.
"Bahkan lebih buruk dari itu, Sayang…" Fudge merendahkan suaranya dan meneruskan, dengan bisik-bisik. "Tak banyak yang tahu bahwa James dan Lily Potter sadar Kau-Tahu-Siapa mengejar mereka. Dumbledore, yang tentu saja bekerja tak kenal lelah menentang Kau-Tahu-Siapa, punya sejumlah mata-mata yang berguna. Salah satunya memberi bisikan kepadanya, dan Dumbledore langsung memperingatkan James dan Lily. Dia menyarankan agar mereka bersembunyi. Tentu saja susah menyembunyikan diri dari Kau-Tahu-Siapa. Dumbledore memberitahu mereka bahwa kesempatan terbaik mereka adalah Mantra Fidelius."
"Bagaimana cara kerjanya?" tanya Madam Rosmerta, terengah. saking tertariknya. Profesor Flitwick berdeham
"Mantra yang rumit sekali," katanya, dengan suara kecil seperti mencicit. "Intinya adalah penyembunyian rahasia secara sihir di dalam diri satu orang yang terpilih, yang disebut Penjaga-Rahasia. Informasi keberadaan Lily dan James tersembunyi dalam diri si penjaga-Rahasia ini, karena itu mereka tak mungkin ditemukan—kecuali si Penjaga-Rahasia sendiri yang membocorkannya. Selama si Penjaga-Rahasia menolak bicara, Kau-Tahu-Siapa boleh saja mencari selama bertahun-tahun di seluruh pelosok desa tempat Lily dan James tinggal, dia tak bakal menemukan mereka, bahkan kalaupun hidungnya sudah menempel di jendela ruang duduk mereka."
"Jadi Black-lah si Penjaga-Rahasia keluarga Potter?" bisik Madam Rosmerta.
"Tentu saja," kata Profesor McGonagall. "James Potter memberitahu Dumbledore bahwa Black lebih memilih mati daripada membocorkan di mana mereka, bahwa Black sendiri merencanakan bersembunyi… meskipun demikian, Dumbledore tetap saja cemas. Aku ingat dia sendiri menawarkan diri sebagai Penjaga-Rahasia keluarga Potter."
"Dia mencurigai Black?" Madam Rosmerta kaget.
"Dia yakin ada orang dekat keluarga Potter yang selalu memberikan informasi kepada Kau-Tahu-Siapa tentang gerak-gerik mereka," kata Profesor McGonagall suram. "Memang, selama beberapa waktu dia sudah curiga ada orang dari pihak kami yang telah menjadi pengkhianat dan menyampaikan banyak informasi kepada Kau-Tahu-Siapa."
"Tetapi James Potter berkeras menggunakan Black?"
"Betul," kata Fudge berat. "Dan kemudian, baru seminggu Mantra Fidelius diterapkan…"
"Black mengkhianati mereka?" Madam Rosmerta menahan napas.
"Betul. Black sudah bosan akan perannya sebagai agen ganda, dia siap mendeklarasikan secara terbuka dukungannya terhadap Kau-Tahu-Siapa, dan rupanya dia sudah merencanakan ini sebagai saat kematian keluarga Potter. Tetapi, seperti kita semua tahu, Kau-Tahu-Siapa menerima kejatuhannya ketika berhadapan dengan Harry Potter kecil. Kekuatannya lenyap, tubuhnya sangat lemah, dia menghilang. Dan ini membuat posisi Black sangat terjepit. Tuannya jatuh pada saat dia, Black, menunjukkan identitasnya yang sebenarnya sebagai pengkhianat. Dia tak punya pilihan lain kecuali kabur…"
"Pengkhianat busuk!" kata Hagrid, begitu keras sehingga separo pengunjung tempat minum itu langsung diam.
"Ssh!" kata Profesor McGonagall.
"Aku ketemu dia!" geram Hagrid. "Aku pasti orang terakhir yang lihat dia sebelum dia bunuh semua orang itu! Akulah yang selamatkan Harry dari rumah Lily dan James setelah mereka dibunuh! Bawa dia keluar dari reruntuhan, anak malang, dengan luka besar di dahinya, dan orangtuanya mati…, dan Sirius Black muncul, dengan motor terbang yang biasa dinaikinya. Tak pernah terpikir olehku apa yang dia lakukan di sana. Aku tak tahu dia Penjaga-Rahasia Lily dan James Potter. Kukira dia baru saja dengar berita tentang serangan Kau-Tahu-Siapa dan datang untuk lihat apa yang bisa dilakukannya. Pucat dan gemetar, dia. Dan kalian tahu apa yang kulakukan? AKU MENGHIBUR PENGKHIANAT PEMBUNUH ITU!" Hagrid menggerung.
"Hagrid!" tegur Profesor McGonagall "Tolong pelankan suaramu!"
"Mana kutahu dia sedih bukan karena Lily dan James? Kau-Tahu-Siapa-lah yang dicemaskannya! Dan kemudian dia bilang, 'Berikan Harry padaku, Hagrid, aku walinya, aku akan merawatnya.' Ha! Tapi aku sudah terima perintah Dumbledore, dan aku bilang pada Black, tidak. Dumbledore bilang Harry harus dibawa ke rumah bibi dan pamannya. Black menentang, tetapi akhirnya menyerah. Dia suruh aku pakai motornya untuk antar Harry ke sana. 'Aku tak memerlukannya lagi,' katanya.
"Harusnya aku tahu ada yang tak beres waktu itu. Dia cinta sekali motornya itu, kenapa dia berikan padaku? Kenapa dia tidak perlukan motor itu lagi? Kenyataannya, motor itu terlalu gampang dilacak. Dumbledore tahu dia Penjaga-Rahasia keluarga Potter. Black tahu dia harus kabur malam itu juga, tahu cuma tinggal hitungan jam saja sebelum Pak Menteri mengejarnya.
"Tapi bagaimana kalau aku berikan Harry padanya, eh? Berani taruhan, Harry pasti dijatuhkan dari motornya ke laut di tengah perjalanan. Anak sahabat baiknya! Tapi kalau penyihir menyeberang ke sihir hitam, tak ada lagi, orang ataupun barang, yang berarti baginya…"
Sunyi lama setelah Hagrid mengakhiri ceritanya. Kemudian Madam Rosmerta berkata puas, "Tetapi dia tidak berhasil kabur, kan? Kementerian Sihir berhasil menangkapnya hari berikutnya!"
"Sayang sekali, tidak," kata Fudge getir. "Bukan kami yang menemukannya, melainkan si kecil Peter Pettigrew—salah satu teman James Potter yang lain. Jelas sangat terpukul oleh kesedihannya, dan tahu bahwa Black-lah si Penjaga-Rahasia keluarga Potter, Pettigrew mengejar Black."
"Pettigrew… anak gemuk pendek yang selalu mengikuti mereka di Hogwarts?" Madam Rosmerta menegaskan.
"Dia menganggap Black dan Potter sebagai pahlawan," kata Profesor McGonagall. "Tidak termasuk kelas mereka dalam hal kepintaran. Aku sering. agak galak kepadanya. Kalian bisa bayangkan bagaimana—bagaimana aku menyesali sikapku itu sekarang…" Suara Profesor McGonagall sengau seakan mendadak dia pilek.
"Sudahlah, Minerva," kata Fudge lembut. "Pettigrew meninggal sebagai pahlawan. Para saksi—Muggle, tentu saja—menceritakan kepada kami bagaimana Pettigrew menyudutkan Black. Kami lalu menghapus ingatan mereka akan peristiwa itu. Para Muggle bilang Pettigrew tersedu-sedu. 'Lily dan James, Sirius! Tega benar kau!' Dan kemudian dia mengambil tongkatnya. Yah, tentu saja Black lebih cepat. Pettigrew hancur berkeping-keping…"
Profesor McGonagall membuang ingus dan berkata tersendat, "Anak bodoh… anak tolol… dia selalu payah dalam duel… seharusnya dia membiarkan Kementerian yang mengambil tindakan…"
"Kalau aku yang ketemu Black lebih dulu dari Pettigrew, aku tak akan pakai tongkat—akan betot sampai lepas tangan dan kakinya," geram Hagrid.
"Kau tak tahu apa yang kaubicarakan, Hagrid," kata Fudge tajam. "Tak ada yang bisa bertahan menghadapi Black yang sudah tersudut, kecuali Penyihir penyerang-Tepat-Sasaran anggota Pasukan Penegak Hukum Sihir yang terlatih. Waktu itu aku menjabat Menteri Muda di Departemen Bencana Sihir, dan aku salah satu yang pertama berada di tempat kejadian setelah Black membantai orang-orang itu. Aku—aku tak akan pernah melupakannya. Aku masih memimpikannya kadang-kadang. Lubang besar di tengah jalan, begitu dalam sampai meretakkan saluran pembuangan limbah di bawah. Tubuh bergelimpangan di mana-mana. Para Muggle menjerit-jerit. Dan Black berdiri tertawa terbahak-bahak, dengan apa yang tersisa dari sosok Pettigrew di depannya… seonggok jubah berlumur darah dan—beberapa potongan kecil…"
Suara Fudge mendadak berhenti. Terdengar bunyi lima orang membuang ingus.
"Nah, begitu ceritanya, Rosmerta," kata Fudge tersendat. "Black ditangkap oleh dua puluh anggota Patroli Penegak Hukum Sihir dan Pettigrew dianugerahi Order of Merlin, Kelas Pertama, yang kurasa bisa menjadi hiburan bagi ibunya. Black dikurung di Azkaban sejak saat itu."
Madam Rosmerta mengembuskan napas panjang.
"Apa betul dia gila, Pak Menteri?"
"Ingin sekali aku bisa mengiyakan pertanyaanmu" kata Fudge perlahan. "Aku yakin kekalahan tuannya membuatnya kacau selama beberapa saat. Pembunuhan Pettigrew dan semua Muggle itu adalah tindakan orang yang tersudut dan putus asa—kejam… tak ada gunanya. Tetapi aku bertemu Black dalam inspeksiku yang terakhir ke Azkaban. Kalian tahu, sebagian besar narapidana di sana duduk ngoceh sendiri dalam kegelapan, omongan mereka kacau… tetapi aku kaget sekali melihat betapa normalnya Black tampaknya. Dia bicara cukup rasional kepadaku. Sungguh membuatku lemas. Kau akan mengira dia cuma bosan—dengan dingin dia bertanya apakah aku sudah selesai membaca koranku, dia bilang dia ingin mengisi teka-teki silangnya. Ya, aku heran sekali, betapa kecilnya pengaruh Dementor terhadapnya—padahal dia salah satu yang paling ketat dijaga di tempat itu. Dementor-dementor di depan pintunya, siang dan malam."
"Tetapi menurut Anda, apa tujuan dia kabur?" tanya Madam Rosmerta. "Astaga, Pak Menteri, dia berusaha bergabung dengan Anda-Tahu-Siapa, ya?"
"Aku berani bilang itulah—eh—tujuan akhirnya," kata Fudge berusaha mengelak. "Tetapi kami berharap bisa menangkap Black jauh sebelum itu terlaksana. Harus kukatakan, Kau-Tahu-Siapa yang sendirian tanpa teman masih lumayan… tetapi beri dia abdinya yang paling setia, dan aku bergidik memikirkan betapa cepatnya dia akan berjaya lagi…"
Terdengar bunyi gelas beradu dengan papan. Ada yang meletakkan gelasnya.
"Cornelius, kalau kau akan makan malam dengan Kepala Sekolah, lebih baik kita kembali ke kastil sekarang," kata Profesor McGonagall.
Sepasang demi sepasang, kaki-kaki di depan Harry menyangga berat pemiliknya sekali lagi, tepi-tepi jubah melambai dalam pandangan dan tumit tinggi sepatu Madam Rosmerta yang berkilauan menghilang ke balik konter. Pintu Three Broomsticks terbuka lagi, hujan salju menerobos masuk lagi, dan para guru itu lenyap.
"Harry?"
Wajah Ron dan Hermione muncul di kolong meja. Mereka berdua hanya bisa memandangnya, tak bisa berkata apa-apa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar