Kamis, 17 Mei 2012

HARRY POTTER dan ORDE PHOENIX ( 16 )

16. DI HOG´S HEAD


HERMIONE tidak menyebut-nyebut soal Harry memberi pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam selama dua minggu sejak dia mengusulkannya. Detensi Harry dengan Umbridge akhirnya usai (dia tak yakin apakah kata-kata yang sekarang terukir di punggung tangannya bisa lenyap sepenuhnya); Ron sudah ikut latihan Quidditch empat kali lagi dan tidak dimarah-marahi lagi dalam dua latihan terakhir; dan mereka bertiga sudah berhasil melenyapkan tikus mereka dalam pelajaran Transfigurasi (Hermione sebetulnya sudah bisa melenyapkan anak kucing), sebelum topik ini disinggung lagi, pada suatu malam yang liar dan berangin keras pada akhir September, ketika mereka bertiga duduk di perpustakaan, mencari-cari bahan ramuan untuk Snape.
"Aku bertanya-tanya sendiri," Hermione tiba-tiba "apakah kau sudah memikirkan soal Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, Harry."
"Tentu saja," kata Harry galak, "mana bisa lupa, kan, kalau hantu perempuan itu yang mengajar kita..."
"Maksudku ide Ron dan aku..." Ron melempar pandang kaget, mengancam. Hermione mengernyit kepadanya, "...Oh, baiklah, ideku kalau begitu--tentang kau mengajar kami."
Harry tidak langsung menjawab. Dia berpura-pura membaca halaman buku Anti-Racun Asiatik, karena dia tak ingin menyatakan apa yang ada di benaknya.
Dia sudah banyak memikirkan hal ini selama dua minggu terakhir. Kadang-kadang sepertinya ini ide gila, sama seperti pada malam Hermione mengusulkannya, tetapi kali lain, ternyata dia memikirkan mantra-mantra yang paling bermanfaat baginya dalam berbagai pertemuannya dengan makhluk-makhluk Kegelapan dan para Pelahap Maut--bahkan ternyata dia tanpa sadar menyusun rencana pelajaran....
"Yah," katanya perlahan, ketika dia tak lagi bisa terus berpura-pura buku Anti-Racun Asiatik itu menarik, "yeah, aku--aku sudah memikirkannya sedikit."
"Dan?" kata Hermione bersemangat.
"Entahlah," kata Harry, mengulur waktu. Dia memandang Ron.
"Dari awal aku sudah menganggapnya ide bagus," ujar Ron, yang tampak lebih tertarik mengikuti pembicaraan ini sekarang setelah dia yakin Harry tidak akan berteriak-teriak lagi.
Harry bergerak tak nyaman di kursinya.
"Kalian mendengarkan kata-kataku bahwa sebagian besar kejadian itu merupakan keberuntungan, kan?"
"Ya, Harry," kata Hermione lembut, "meskipun demikian, tak ada gunanya berpura-pura kau tidak pintar dalam Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, karena kau jago. Tahun lalu kau satu-satunya yang bisa melawan Kutukan Imperius sepenuhnya, kau bisa menghasilkan Patronus, kau bisa melakukan banyak hal yang penyihir dewasa pun tak bisa. Viktor selalu berkata…"
Ron berpaling kepadanya cepat sekali, sehingga kelihatannya otot lehernya tertarik. Sambil mengurut-urut lehernya dia berkata, "Yeah? Apa kata Vicky?"
"Ho, ho," kata Hermione dengan suara bosan. "Dia bilang Harry bisa melakukan hal-hal yang tak bisa dia lakukan, padahal dia sudah tahun terakhir di Durmstrang."
Ron memandang Hermione dengan curiga. "Kau sudah tidak lagi berhubungan dengannya, kan?"
"Memangnya kenapa kalau masih?" ujar Hermione tenang, meskipun wajahnya agak memerah. "Aku kan boleh punya teman pena kalau aku..."
"Dia tidak cuma ingin jadi teman penamu," kata Ron menuduh.
Hermione menggeleng putus asa dan, mengabaikan Ron yang masih memandangnya, berkata kepada Harry, "Nah, bagaimana menurutmu? Maukah kau mengajar kami?"
"Hanya kau dan Ron, yeah?"
"Wah," kata Hermione, tampak agak gelisah lagi, "jangan marah lagi, Harry, ya... tap, menurutku kau seharusnya mengajar siapa saja yang mau belajar. Maksudku, kita bicara soal mempertahankan diri terhadap V-Voldemort. Oh, jangan konyol, Ron. Rasanya tidak adil kalau kita tidak menawarkan kesempatan ini kepada anak-anak lain."
Harry mempertimbangkannya selama beberapa saat, kemudian berkata, "Yeah, tapi aku ragu ada anak lain selain kalian berdua yang mau diajar olehku. Aku ini sinting, ingat?
"Kurasa kau mungkin heran berapa banyak anak yang tertarik mendengar apa yang akan kaukatakan," kata Hermione serius. "Begini," dia membungkuk ke arah Harry--Ron, yang masih mengawasinya dengan kening berkerut, membungkuk untuk ikut mendengar juga--"kau tahu akhir minggu pertama bulan Oktober adalah akhir pekan Hogsmeade? Bagaimana kalau kita memberitahu siapa pun yang tertarik untuk menemui kita di sana dan kita bisa merundingkannya?"
"Kenapa kita harus melakukannya di luar sekolah?" tanya Ron.
"Karena," kata Hermione, kembali menghadapi diagram Kol-Kunyah Cina yang sedang disalinnya, "kukira Umbridge tak akan begitu senang kalau dia tahu apa yang akan kita lakukan."
Harry sudah menunggu-nunggu kunjungan akhir pekan ke Hogsmeade, tetapi ada satu hal yang mencemaskannya. Sirius tak pernah mengirim kabar sejak muncul di perapian pada awal September lalu. Harry tahu mereka telah membuatnya marah dengan mengatakan mereka tak mau dia datang--tetapi dari waktu ke waktu ke waktu dia masih cemas kalau-kalau Sirius mengabaikan sikap berhati-hatinya dan tetap muncul. Apa yang akan mereka lakukan kalau anjing besar itu berlari menyambut mereka di Hogsmeade, mungkin di depan hidung Draco Malfoy?
"Yah, kau tak bisa menyalahkannya kalau dia ingin keluar berjalan-jalan," kata Ron, ketika Harry mendiskusikan ketakutannya dengannya dan Hermione.
"Maksudku, dia sudah dalam pelarian selama dua tahun ini, kan, dan aku tahu itu bukan hal mudah, tapi paling tidak dia bebas, kan? Dan sekarang dia hanya terkurung sepanjang waktu dengan peri rumah mengerikan itu."
Hermione memandang marah Ron, tetapi mengabaikan hinaan terhadap Kreacher.
"Masalahnya adalah," katanya kepada Harry, "kalau V-Voldemort--oh, astaga Ron--belum muncul terang-terangan, Sirius terpaksa harus tetap bersembunyi, kan? Maksudku, Kementerian akan menyadari Sirius tidak bersalah sampai mereka menerima bahwa yang dikatakan Dumbledore tentang dirinya selama ini benar. Dan begitu orang-orang tolol itu mulai menangkapi lagi Pelahap Maun yang asli, akan jelas bahwa Sirius bukan salah satu dari mereka… Maksudku, dia tak punya Tanda."
"Kurasa dia tak akan begitu bodoh datang ke Hogsmeade," kata Ron memberi semangat. "Dumbledore akan marah sekali kalau dia muncul dan Sirius mendengarkan Dumbledore, walaupun dia tak suka pada apa yang didengarnya."
Ketika Harry masih tampak cemas, Hermione berkata, "Ron dan aku sudah mendekati anak-anak yang kami perkirakan ingin mempelajari Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang sebenarnya, dan ada beberapa yang tampaknya tertarik. Kami sudah memberitahu mereka untuk menemui kita di Hogsmeade."
"Baik," kata Harry asal saja, pikirannya masih pada Sirius.
"Jangan khawatir, Harry," ujar Hermione pelan. "Sudah cukup banyak yang harus kaupikirkan tanpa ditambah soal Sirius."
Tentu saja Hermione benar, dia nyaris kedodoran mengerjakan PR-PR-nya, meskipun sudah jauh lebih baik sekarang setelah dia tak lagi melewatkan setiap malam menjalani detensi dengan Umbridge. Ron bahkan lebih ketinggalan dibanding Harry, karena kendati mereka berdua latihan Quidditch dua kali seminggu, Ron masih harus menjalankan tugas-tugas Prefeknya. Walaupun demikian, Hermione, yang mengambil lebih banyak mata pelajaran daripada mereka berdua, tidak hanya menyelesaikan semua PR-nya, dia juga masih punya waktu untuk merajut lebih banyak pakaian peri-rumah. Harry harus mengakui bahwa dia semakin mahir, sekarang sudah hampir bisa dibedakan antara topi dan kaus kaki.
Pagi hari kunjungan ke Hogsmeade cerah tetapi berangin. Usai sarapan mereka antre di depan Filch, yang mencocokkan nama mereka ke daftar panjang anak-anak yang memiliki izin dari orangtua atau wali mereka untuk mengunjungi desa ini. Hati Harry sedikit pedih ketika dia ingat bahwa jika bukan karena Sirius, dia tak akan bisa pergi sama sekali.
Ketika Harry tiba di depan Filch, si penjaga sekolah mengendusnya keras, seakan ingin mendeteksi bau sesuatu dari Harry. Kemudian dia mengangguk kecil, membuat rahangnya gemetar lagi dan Harry berjalan keluar, menuruni undakan batu, memasuki hari yang dingin disinari matahari.
"Eh--kenapa Filch mengendusmu?" tanya Ron ketika dia, Harry, dan Hermione berjalan agak cepat menuju gerbang.
"Kurasa dia mengecek kalau-kalau ada bau Bom Kotoran," kata Harry tertawa kecil. "Aku lupa bercerita kepada kalian..."
Dan dia menceritakan peristiwa ketika dia mengeposkan suratnya untuk Sirius dan Filch menerobos masuk beberapa saat kemudian, memaksa ingin melihat suratnya. Dia agak heran Hermione menganggap cerita ini sangat menarik, malah jauh lebih menarik daripada anggapannya sendiri.
"Dia bilang ada yang memberi kisikan kau memesan Bom Kotoran? Tapi siapa yang memberinya kisikan?"
"Aku tak tahu," kata Harry, mengangkat bahu. "Mungkin Malfoy, dia akan menganggap hal ini lucu."
Mereka melewati pilar batu yang di puncaknya berdiri babi hutan bersayap dan berbelok ke kiri, ke jalan yang menuju desa. Angin menerbangkan rambut ke mata mereka.
"Malfoy?" kata Hermione, bimbang. "Yah... ya… mungkin..."
Dan Hermione tetap sibuk berpikir sepanjang perjalanan sampai mereka tiba di luar desa Hogsmeade.
"Kita ke mana nih?" Harry bertanya. "Three Broomsticks?"
"Oh--tidak," kata Hermione, sadar dari lamunannya, "tidak, di situ selalu penuh dan sangat bising. Aku sudah memberitahu yang lain untuk menemui kita di Hog´s Head, tempat minum satunya, kalian tahu kan, yang tidak terletak di jalan utama. Kurasa tempat itu agak... tahu kan... berisiko... tapi pelajar biasanya tidak ke sana, jadi kupikir tak akan ada yang mencuri-dengar."
Mereka berjalan sepanjang jalan utama, melewati Zonko´s Joke Shop--Toko Lelucon Sihir Zonko--mereka tidak heran melihat Fred, George, dan Lee Jordan ada di sana, melewati kantor pos, dari mana burung-burung hantu terbang keluar pada waktu-waktu tertentu, dan berbelok ke jalan kecil. Di ujung jalan ini ada tempat minum kecil. Papan nama dari kayu yang sudah usang tergantung dari siku-siku berkarat di atas pintu, dengan gambar penggalan kepala babi hutan yang mengucurkan darah ke kain putih di sekitarnya. Papan nama itu berderak tertiup angin ketika mereka mendekat. Ketiganya ragu-ragu di depan pintu.
"Nah, ayo," ajak Hermione, agak gugup. Harry mendahului masuk.
Tempat ini sama sekali berbeda dari Three Broomsticks, yang bar besarnya memancarkan kehangatan dan kebersihan. Bar Hog´s Head terdiri atas ruang kecil, kumal, dan sangat kotor, berbau menyengat, mungkin bau kambing. Jendela-jendelanya diselimuti kotoran sehingga sangat sedikit sinar yang bisa masuk ruangan, yang diterangi oleh lilin-lilin di meja-meja kayu kasar. Sekilas lantainya seperti terbuat dari tanah, meskipun begitu melangkah di atasnya Harry menyadari ada batu di bawah apa yang tampaknya merupakan timbunan debu selama berabad-abad.
Harry ingat Hagrid menyebut-nyebut tempat ini waktu dia kelas satu. "Kalian ketemu banyak orang aneh di Hog´s Head," katanya dulu, saat menjelaskan bagaimana dia memenangkan telur naga dari orang asing berkerudung di sana. Waktu itu Harry bertanya dalam hati, kenapa Hagrid tidak merasa aneh melihat orang asing itu menyembunyikan mukanya sepanjang pertemuan, dan kini dia melihat bahwa menyembunyikan wajah merupakan semacam mode di Hog´s Head. Ada laki-laki di bar yang seluruh kepalanya dibebat perban kotor kelabu, meskipun dia masih bisa meneguk bergelas-gelas minuman berasap dan berapi melalui celah di mulutnya; dua sosok berkerudung duduk di meja di depan salah satu jendela; Harry mungkin akan mengira mereka Dementor seandainya mereka tidak sedang bicara dengan aksen Yorkshire yang kental, dan di sudut gelap di sebelah perapian duduk penyihir perempuan bercadar hitam tebal dan panjang sampai menutupi jari-jari kakinya. Mereka hanya bisa melihat puncak hidungnya karena itu membuat cadarnya sedikit menonjol.
"Aku tak tahu, Hermione," Harry bergumam, ketika mereka berjalan ke bar. Dia khususnya memandang si penyihir bercadar tebal. "Pernahkah terpikir olehmu bahwa Umbridge-lah yang di balik cadar itu?"
Hermione mengamati sosok bercadar itu.
"Umbridge lebih pendek daripada perempuan itu," katanya pelan. "Lagi pula, bahkan seandainya Umbridge datang di sini, tak ada yang bisa dilakukannya untuk melarang kita, Harry, karena aku sudah mengecek peraturan sekolah dua bahkan tiga kali. Kita tidak melanggar peraturan. Aku khusus bertanya kepada Profesor Flitwick apakah pelajar diizinkan ke Hog´s Head dan dia bilang ya, tapi dia serius menyarankan agar kita membawa gelas sendiri. Dan aku sudah mengecek segala yang bisa kupikirkan tentang grup belajar dan grup PR, dan grup-grup itu jelas diizinkan. Hanya saja menurutku bukan ide bagus kalau kita menggembar-gemborkan apa yang kita lakukan."
"Memang," kata Harry kering, "terutama karena yang kaurencanakan bukan grup PR, kan?"
Pelayan bar berjalan pelan mendatangi mereka dari ruang belakang. Laki-laki tua itu bertampang galak dengan jenggot dan rambut beruban lebat panjang. Dia jangkung dan kurus dan rasanya tidak asing bagi Harry.
"Apa?" gerutunya.
"Tolong tiga Butterbeer," kata Hermione.
Laki-laki itu menjangkau ke bawah konter dan menarik keluar tiga botol yang sangat kotor berdebu, yang digebrakkannya ke atas bar.
"Enam Sickle," katanya.
"Biar aku yang bayar," kata Harry cepat-cepat, menyerahkan uang perak. Mata si pelayan bar mengamati Harry, sesaat berhenti di bekas lukanya. Kemudian dia berpaling dan memasukkan uang Harry ke dalam mesin kas tua dari kayu yang lacinya otomatis menggeser dan membuka untuk menerimanya. Harry, Ron dan Hermione berjalan ke meja paling jauh dari bar dan duduk, memandang berkeliling. Laki-laki yang memakai perban kotor kelabu mengetuk konter dengan buku-buku jarinya dan menerima minuman berasap lagi dari pelayan bar.
"Kau tahu tidak?" Ron bergumam, memandang ke bar penuh antusias. "Kita bisa memesan apa saja yang kita mau di sini. Berani taruhan orang itu mau menjual apa saja kepada kita, dia tidak akan peduli. Dari dulu aku ingin mencoba Wiski-api."
"Kau--seorang--Prefek," geram Hermione.
"Oh," kata Ron, senyum memudar dari wajahnya. "Yeah..."
"Jadi, siapa tadi katamu yang akan menemui kita?" Harry bertanya, menarik hingga terbuka tutup botol Butterbeer yang berkarat dan meneguknya.
"Hanya beberapa anak," Hermione mengulang, mengecek arlojinya dan memandang gelisah ke pintu. "Kuminta mereka ke sini kira-kira sekarang ini dan aku yakin mereka tahu di mana--oh, itu mungkin mereka."
Pintu rumah minum terbuka. Seleret tebal sinar matahari berdebu membagi ruangan menjadi dua selama sesaat, kemudian lenyap, dihalangi oleh masuknya serombongan orang.
Mula-mula muncul Neville dengan Dean dan Lavender, diikuti oleh Parvati dan Padma Patil bersama (perut Harry serasa berjungkir-balik) Cho dan salah satu teman perempuannya yang biasa mengikik, kemudian (sendirian dan melamun sehingga mungkin saja dia salah masuk) Luna Lovegood; kemudian Katie Bell, Felicia Spinnet, dan Angelina Johnson, Colin dan Dennis Creevey; Ernie Macmillan, Justin Finch-Fletchley, Hannah Abbott, anak perempuan Hufflepuff dengan kepang panjang di punggung yang Harry tak tahu namanya; tiga anak Ravenclaw yang dia yakin bernama Anthony Goldstein, Michael Corner, dan Terry Boot, Ginny, diikuti oleh seorang anak laki-laki jangkung berambut pirang dengan hidung mencuat ke atas yang samar-samar dikenali Harry sebagai anggota tim Quidditch Hufflepuff dan, paling belakang, Fred dan George Weasley dengan sahabat mereka Lee Jordan, ketiganya menenteng kantong-kantong kertas besar berisi barang-barang jualan Zonko.
"Beberapa anak?" hardik Harry parau kepada Hermione. "Beberapa anak?"
"Ya, wah, rupanya ide ini populer," kata Hermione senang. "Ron, tolong dong tarik beberapa kursi."
Pelayan bar membeku dalam gerakannya mengelap gelas dengan kain lap amat kotor yang kelihatannya tak pernah dicuci. Barangkali dia belum pernah melihat rumah minumnya begini penuh.
"Hai," salam Fred, yang menuju ke bar lebih dulu dan menghitung teman-temannya dengan cepat, "kami pesan... 25 Butterbeer." Pelayan bar mendelik kepadanya sesaat, melempar kain lapnya dengan jengkel seakan dia disela ketika sedang mengerjakan sesuatu yang sangat penting, kemudian dia mengambil Butterbeer berdebu dari bawah barnya.
"Cheers," kata Fred sambil membagikannya. "Patungan teman-teman, aku tak punya cukup uang emas untuk membayar semua ini...."
Harry memandang ngeri ketika rombongan besar yang asyik mengobrol ini mengambil Butterbeer dari Fred dan mencari-cari koin dalam saku mereka. Dia tak bisa membayangkan untuk apa semua anak ini muncul, sampai terlintas pikiran mengerikan di benaknya bahwa mereka mungkin mengharapkan semacam pidato, maka dia langsung berpaling kepada Hermione.
"Apa yang kaukatakan kepada anak-anak ini?" katanya dengan suara rendah. "Apa yang mereka harapkan?"
"Sudah kukatakan kepadamu, mereka hanya ingin mendengar apa yang akan kaukatakan," kata Hermione menenangkan; tetapi Harry terus memandangnya dengan marah sehingga Hermione buru-buru menambahkan, "kau belum perlu melakukan apa-apa, aku yang akan bicara dengan mereka dulu."
"Hai, Harry," sapa Neville berseri-seri dan mengambil tempat duduk di depannya.
Harry berusaha membalas tersenyum, tetapi tidak bicara; mulutnya luar biasa kering. Cho baru saja tersenyum kepadanya dan duduk di sebelah kanan Ron. Temannya, yang rambutnya keriting pirang-kemerahan, tidak tersenyum, tetapi menatap Harry dengan pandangan curiga yang dengan jelas memberitahu Harry bahwa, kalau boleh memilih, dia tak sudi berada di sini.
Berdua-dua atau bertiga, para pendatang baru ini duduk mengelilingi Harry, Ron, dan Hermione, beberapa tampak agak bergairah, yang lain ingin tahu. Luna Lovegood melamun, tatapannya kosong. Ketika semua anak sudah menarik kursi, obrolan berhenti. Semua mata memandang Harry.
"Eh," kata Hermione, suaranya agak lebih tinggi daripada biasanya karena tegang. "Nah--eh--hai."
Anak-anak memfokuskan perhatian kepadanya sekarang, meskipun mata mereka berkali-kali masih kembali memandang Harry.
"Yah... eh... yah, kalian tahu kenapa kalian berada di sini. Ehm... Harry punya ide--maksudku" (Harry melempar pandangan tajam kepadanya) "aku punya ide--bahwa mungkin ada baiknya kalau anak yang ingin mempelajari Pertahanan terhadap Ilmu Hitam--dan yang kumaksudkan, benar-benar mempelajarinya, bukan sampah yang diberikan Umbridge kepada kita--" (suara Hermione mendadak menjadi jauh lebih kuat dan percaya diri) "--karena tak ada yang bisa menyebut Pelajarannya itu Pertahanan terhadap Ilmu Hitam--" ("Dengar, dengar," kata Anthony Goldstein, dan Hermione tampak berbesar hati) "--Nah, kupikir ada baiknya kalau kita, yah, mengurus sendiri hal ini."
Hermione berhenti, berpaling memandang Harry, dan meneruskan, "Dan yang kumaksud adalah mempelajari bagaimana mempertahankan diri kita dengan sepatutnya, bukan hanya secara teori tetapi mempraktekkan mantra-mantra yang sesungguhnya..."
"Kau ingin lulus OWL Pertahanan terhadap Ilmu Hitam juga, tentunya?" kata Michael Corner.
"Tentu saja," kata Hermione segera. "Tetapi lebih daripada itu, aku ingin dilatih dengan sepatutnya dalam pertahanan karena... karena..." dia menarik napas dalam-dalam dan mengakhiri kalimatnya, "karena Lord Voldemort sudah kembali."
Reaksinya langsung dan sudah diperkirakan. Teman Cho menjerit dan menumpahkan Butterbeer ke tubuhnya; Terry Boot seperti mengejang; Padma Patil bergidik, dan Neville mendengking aneh yang kemudian diubahnya menjadi batuk. Meskipun demikian, mereka semua menatap Harry tak lepas-lepas, bahkan dengan bergairah.
"Yah... itu rencananya," kata Hermione. "Jika kalian ingin bergabung dengan kami, kita perlu memutuskan bagaimana kita akan..."
"´Mana buktinya bahwa Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?" tanya si pirang pemain Hufflepuff dengan suara agresif.
"Yah, Dumbledore percaya itu..." Hermione memulai.
"Maksudmu, Dumbledore mempercayai dia," kata si pirang, mengangguk ke arah Harry.
"Siapa kau?" tanya Ron, agak kasar.
"Zacharias Smith," kata anak itu, "dan kurasa kita punya hak untuk mengetahui apa tepatnya yang membuat dia berkata Kau-Tahu-Siapa telah kembali."
"Dengar," kata Hermione, dengan sigap menengahi, "bukan itu sebenarnya tujuan pertemuan kita..."
"Tak apa-apa, Hermione," kata Harry. Harry baru saja menyadari kenapa begitu banyak anak datang kemari. Menurutnya Hermione mestinya bisa menduga ini akan terjadi. Beberapa dari anak-anak ini--mungkin bahkan sebagian besar dari mereka--datang dengan harapan akan mendengar cerita Harry dari tangan pertama.
"Apa yang membuatku mengatakan Kau-Tahu-Siapa telah kembali?" dia bertanya, memandang Zacharias lurus-lurus. "Aku melihatnya. Tapi Dumbledore sudah menyampaikan kepada seluruh sekolah apa yang terjadi tahun lalu, dan kalau kau tidak mempercayainya, kau tak akan mempercayaiku, dan aku tak akan membuang-buang sepanjang sore mencoba meyakinkan siapa pun."
Seluruh rombongan tampak menahan napas selagi Harry bicara. Harry mendapat kesan bahwa bahkan si pelayan bar pun ikut mendengarkan. Dia mengelap gelas yang sama dengan kain lap kotor, membuat gelasnya malah makin kotor.
Zacharias berkata berani, "Yang disampaikan Dumbledore kepada kami tahun lalu hanyalah bahwa Cedric Diggory dibunuh oleh Kau-Tahu-Siapa dap bahwa kau membawa pulang jenazah Diggory ke Hogwarts. Dia tidak memberi kami perincian, dia tidak menceritakan bagaimana persisnya Diggory sampai terbunuh, kurasa kita semua ingin tahu..."
"Kalau kau datang untuk mendengar bagaimana persisnya ketika Voldemort membunuh orang, aku tak bisa membantumu," Harry menjelaskan. Kemarahannya, yang selalu amat dekat ke permukaan hari-hari ini, bangkit lagi. Dia tidak mengalihkan matanya dari wajah agresif Zacharias, dan bertekad untuk tidak memandang Cho. "Aku tak ingin bicara tentang Cedric Diggory, oke? Jadi, kalau itu yang membuat kalian berada di sini, sebaiknya kalian pergi dari sini saja."
Dia melempar pandang marah ke arah Hermione. Semua ini, menurut perasaannya, kesalahan Hermione, Hermione telah memutuskan untuk memamerkannya seperti semacam orang aneh, dan tentu saja mereka semua datang untuk mendengar seseru apa ceritanya Tetapi tak seorang pun dari mereka meninggalkan tempat duduk, bahkan Zacharias Smith pun tidak, meskipun dia terus memandang tajam Harry.
"Jadi," kata Hermione, suaranya melengking tinggi lagi. "Jadi, seperti kukatakan tadi... kalau kalian ingin mempelajari beberapa pertahanan, kita perlu merundingkan bagaimana kita akan melakukannya, berapa sering kita akan bertemu, dan di mana kita akan..."
"Betulkah," sela gadis dengan kepang panjang di punggungnya, "bahwa kau bisa menghasilkan Patronus?"
Terdengar gumam tertarik di antara rombongan.
"Ya," kata Harry agak defensif.
"Patronus badaniah?"
Istilah itu menghidupkan sesuatu dalam ingatan Harry.
"Eh--kau tidak kenal Madam Bones, kan?" dia bertanya.
Gadis itu tersenyum. "Dia bibiku," katanya. "Aku Susan Bones. Dia bercerita kepadaku tentang sidangmu. Jadi--itu betul? Kau membuat Patronus rusa jantan?"
"Ya," kata Harry.
"Astaga, Harry!" seru Lee, tampak terkesan sekali. "Aku tak pernah tahu!"
"Mum melarang Ron menyebarkannya," kata Fred, nyengir kepada Harry. "Dia bilang kau sudah mendapat cukup banyak perhatian."
"Dia tidak salah," gumam Harry, dan beberapa anak tertawa.
Penyihir perempuan bercadar bergerak sedikit di kursinya.
"Dan benarkah kau membunuh Basilisk dengan pedang di kantor Dumbledore itu?" Terry Boot bertanya. "Itu yang diceritakan salah satu lukisan di dinding ketika aku di sana tahun lalu…"
"Eh, ya. Betul, yeah," kata Harry.
Justin Finch-Fletchley bersiul; kakak-beradik Creevey bertukar pandang terpesona, dan Lavender Brown berkata, "Wow!" pelan. Harry merasa agak panas di sekeliling kerah bajunya sekarang; dia memandang ke mana saja asal tidak ke arah Cho.
"Dan waktu kami kelas satu," kata Neville kepada rombongan, "dia menyelamatkan Batu Bertuan..."
"Bertuah," desis Hermione.
"Ya, itu--dari Kau-Tahu-Siapa," kata Neville mengakhiri kata-katanya.
Mata Hannah Abbott sebundar Galleon.
"Dan belum lagi," kata Cho (mata Harry langsung berpindah memandangnya; Cho sedang menatapnya, tersenyum; perut Harry sekali lagi berjungkir-balik) "semua tugas yang harus dilaksanakannya dalam Turnamen Triwizard tahun lalu--melewati naga dan duyung-duyung dan Acromantula dan lain-lain lagi…"
Terdengar gumam terkesan di antara anak-anak. Isi perut Harry menggeliat-geliat. Dia berusaha mengatur wajahnya agar tidak kelihatan terlalu berpuas diri. Fakta bahwa Cho baru saja memujinya, membuatnya tambah sulit mengatakan hal yang akan disampaikannya kepada mereka--padahal dia sudah bersumpah akan menyampaikannya.
"Dengar," katanya, dan semuanya langsung terdiam, "aku... aku tidak ingin kedengarannya merendah atau bagaimana, tapi... aku mendapat banyak bantuana dengan semua itu..."
"Tidak dengan naga... kau tidak dibantu," sela Michael Corner segera. "Terbangmu cool banget...."
"Yah..." kata Harry, merasa tidak pantas kalau membantah.
"Dan tak ada yang membantumu mengusir para Dementor musim panas ini," kata Susan Bones.
"Ya," kata Harry, "tak ada memang. Oke, aku tahu aku melakukan beberapa di antaranya tanpa bantuan, tetapi yang ingin kusampaikan adalah..."
"Apakah kau mau berkelit tidak mau mengajari kami semua itu?" tanya Zacharias Smith.
"Aku punya ide," kata Ron keras, sebelum Harry sempat bicara, "bagaimana kalau kau tutup mulut?"
Mungkin kata "berkelit" telah membuat Ron jengkel. Dia sekarang memandang Zacharias seakan tak ada yang lebih ingin dilakukannya selain memukulnya. Wajah Zacharias merona merah.
"Kan kita semua datang untuk belajar semua itu darinya dan sekarang dia bilang dia sebetulnya tak bisa melakukan satu pun hal tersebut," katanya.
"Bukan itu yang dikatakannya," bentak Fred.
"Apa kau ingin kami membersihkan kupingmu?" George bertanya sambil menarik keluar logam panjang mengerikan dari salah satu kantong Zonko.
"Atau bagian tubuhmu yang mana saja, kami tak peduli di mana harus menusukkan alat ini," ancam Fred.
"Nah," kata Hermione buru-buru, "kita teruskan... maksudnya adalah, apakah kita sepakat kita ingin belajar dari Harry?"
Terdengar gumam setuju. Zacharias melipat lengannya dan tidak berkata apa-apa, meskipun ini mungkin karena dia terlalu sibuk mengawasi alat di tangan Fred.
"Baiklah," kata Hermione, tampak lega akhirnya ada yang disepakati. "Kalau begitu, pertanyaan berikutnya, berapa sering kita melakukannya. Kurasa tak ada gunanya kalau kita hanya bertemu kurang dari sekali seminggu..."
"Tunggu," kata Angelina, "kita harus memastikan ini tidak bentrok dengan latihan Quidditch kami."
"Ya," kata Cho, "juga dengan latihan kami."
"Juga latihan kami," Zacharias Smith menambahi.
"Aku yakin kita bisa menemukan malam yang cocok untuk semua orang," kata Hermione, agak kurang sabar, "tapi kalian tahu, ini lumayan penting, kita bicara tentang belajar mempertahankan diri terhadap Para Pelahap Maut V-Voldemort..."
"Penyampaian yang bagus sekali!" celetuk Ernie Macmillan. Baru sekarang dia bicara, padahal Harry mengharap dia sudah bicara jauh sebelum saat ini. "Aku pribadi menganggap hal ini sungguh penting, mungkin bahkan lebih penting daripada apapun yang akan kita lakukan tahun ini, bahkan daripada OWL yang akan datang!"
Dia memandang berkeliling dengan bergaya, Seakan menunggu anak-anak berkata, "Tentu saja tidak!" Ketika tak ada yang bicara, dia melanjutkan, "Aku pribadi sama sekali tak mengerti kenapa Kementerian menyisipkan guru yang begitu tak berguna dalam periode kritis ini. Memang mereka tidak mempercayai kembalinya Kau-Tahu-Siapa, tetapi memberi kita guru yang secara aktif melarang kita menggunakan mantra-mantra pertahanan..."
"Menurut pendapat kami, alasan Umbridge tidak ingin kita terlatih dalam Pertahanan terhadap Ilmu Hitam," kata Hermione, "adalah karena dia mempunyai... ide gila bahwa Dumbledore bisa menggunakan murid-muridnya di sekolah sebagai semacam laskar pribadi. Umbridge mengira Dumbledore akan memobilisasi kita melawan Kementerian."
Hampir semua tampak kaget mendengarnya, semua kecuali Luna Lovegood, yang nyeletuk, "Itu masuk akal. Kan Cornelius Fudge juga punya laskar pribadi."
"Apa?" seru Harry, sangat terperanjat mendengar informasi tak terduga ini.
"Ya, dia punya pasukan Heliopath," kata Luna sungguh-sungguh.
"Tidak, dia tak punya," bentak Hermione.
"Punya," kata Luna.
"Apa sih Heliopath itu?" tanya Neville bingung.
"Mereka roh api," jelas Luna, matanya yang menonjol melebar sehingga dia tampak lebih sinting daripada biasanya, "makhluk-makhluk besar, tinggi, menyala-nyala, yang berlari di atas tanah membakar apa saja yang ada di depan..."
"Mereka tak ada, Neville," sanggah Hermione masam
"Oh, ada saja," kilah Luna marah.
"Sori, tapi mana buktinya?" hardik Hermione.
"Banyak saksi yang bilang. Hanya karena pandanganmu sempit, kau perlu segalanya disodorkan ke bawah hidungmu sebelum kau..."
"Ehem, ehem," potong Ginny, berhasil begitu mirip menirukan Profesor Umbridge, sehingga beberapa anak menoleh ketakutan dan kemudian tertawa. "Bukankah tadi kita sedang mencoba memutuskan berapa sering kita bertemu untuk mendapat pelajaran Pertahanan?"
"Ya," kata Hermione segera, "ya, kau betul, Ginny.
"Yah, seminggu sekali kedengarannya cool," kata Lee Jordan.
"Asal..." Angelina mulai.
"Ya, ya, kami tahu tentang Quidditch," kata Hermione dengan suara tegang. "Nah, hal lain yang perlu diputuskan adalah di mana kita akan bertemu..."
Ini agak lebih sulit. Semua anak terdiam.
"Perpustakaan?" usul Katie Bell setelah beberapa saat.
"Madam Pince pasti ngomel-ngomel kalau kita melakukan mantra-mantra di perpustakaan," kata Harry.
"Mungkin kelas yang tidak terpakai?" saran Dean.
"Yeah," kata Ron, "McGonagall mungkin akan mengizinkan kita memakai kelasnya, seperti waktu Harry berlatih untuk Triwizard."
Namun Harry yakin kali ini McGonagall tidak akan semurah hati itu. Kendatipun Hermione mengatakan grup belajar dan grup PR diizinkan, dia punya perasaan grup mereka ini bisa dianggap bernuansa pemberontakan.
"Baiklah, kami akan mencoba mencari tempat," kata Hermione. "Kami akan mengirim pesan kepada semua setelah mendapatkan waktu dan tempat untuk pertemuan pertama."
Dia mencari-cari dalam tasnya dan mengeluarkan perkamen dan pena-bulu, kemudian bimbang, seakan dia menguatkan diri untuk menyampaikan sesuatu.
"Ku ...kurasa semua harus menuliskan nama, supaya kita tahu siapa yang hadir. Tapi aku juga berpendapat," dia menarik napas dalam-dalam, "bahwa kita semua harus setuju tidak menyiarkan apa yang kita lakukan. Jadi, kalau kalian menandatangani, berarti kalian setuju tidak memberitahu Umbridge atau siapa pun mengenai apa yang kita lakukan."
Fred meraih perkamen itu dan dengan riang mencoretkan tanda tangannya, namun Harry segera melihat bahwa beberapa anak tampak kurang senang diminta menuliskan namanya dalam daftar.
"Eh..." kata Zacharias lambat-lambat, tidak mengambil perkamen yang disodorkan George kepadanya "yah... aku yakin Ernie akan memberitahuku kapan pertemuannya."
Tetapi Ernie juga tampak agak ragu-ragu membubuhkan tanda tangannya. Hermione mengangkat alis kepadanya.
"Aku--yah, kita Prefek," celetuk Ernie. "Dan kalau daftar ini ditemukan... maksudku... kau sendiri tadi bilang jika Umbridge sampai tahu..."
"Kau tadi bilang grup ini hal paling penting yang akan kaulakukan tahun ini," Harry mengingatkannya.
"Aku… ya," kata Ernie, "ya, memang begitu, hanya saja..."
"Ernie, apa kaupikir aku akan membiarkan daftar itu tergeletak sembarangan?" tanya Hermione tersinggung.
"Tidak, tidak, tentu saja tidak," kata Ernie, kecemasannya tampak berkurang. "Aku... ya, tentu aku akan tanda tangan."
Tak ada yang keberatan setelah Ernie, meskipun Harry melihat teman Cho melempar pandang mencela ke arahnya sebelum menambahkan namanya. Ketika orang terakhir--Zacharias--telah membubuhkan tanda tangan, Hermione mengambil kembali perkamennya dan menyelipkannya hati-hati ke dalam tasnya. Ada perasaan aneh dalam grup itu sekarang, seakan mereka baru saja menandatangani semacam kontrak.
"Nah, waktu terus berjalan," kata Fred ringkas, seraya berdiri. "George, Lee, dan aku harus membeli sesuatu yang agak sensitif. Sampai ketemu lagi."
Berdua-dua, atau bertiga, anak-anak yang lain pamit juga. Cho berlama-lama menutup kancing tasnya sebelum pergi, rambutnya yang panjang hitam terjurai ke depan seperti tirai menutupi wajahnya, tetapi temannya berdiri di sebelahnya, lengannya terlipat, mendecakkan lidahnya, maka Cho tak punya pilihan lain kecuali pergi bersamanya. Ketika temannya mendorongnya melewati pintu, Cho menoleh dan melambai kepada Harry.
"Yah, kurasa pertemuan kita berjalan cukup baik," kata Hermione senang, ketika dia, Harry, dan Ron keluar dari Hog´s Head ke dalam sinar matahari yang cerah beberapa waktu kemudian. Harry dan Ron membawa botol Butterbeer mereka.
"Si Zacharias itu menyebalkan," kata Ron, mendelik ke sosoknya, yang masih tampak di kejauhan.
"Aku juga tidak begitu suka padanya," Hermione mengakui, "tapi dia mendengar aku bicara dengan Ernie dan Hannah di meja Hufflepuff dan dia tampaknya benar-benar tertarik ikut datang, jadi aku bisa bilang apa? Tapi makin banyak yang ikut makin baik sebetulnya--maksudku, Michael Corner dan teman-temannya tidak akan datang kalau dia tidak sedang pacaran dengan Ginny..."
Ron, yang sedang menghabiskan tetes terakhir dari botol Butterbeer-nya, tersedak dan Butterbeer-nya menyembur ke bagian depan bajunya.
"APA?" katanya gugup, marah, telinganya sekarang mirip sayatan daging mentah. "Dia pacaran dengan--adikku pacaran--apa maksudmu, Michael Corner?"
"Yah, itu sebabnya dia dan teman-temannya datang. Menurutku--mereka jelas tertarik belajar Pertahanan, tapi kalau Ginny tidak memberitahu Michael apa yang terjadi..."
"Kapan dia... kapan dia...?"
"Mereka bertemu waktu Pesta Dansa Natal dan di akhir tahun ajaran lalu," jelas Hermione sabar. Merek telah berbelok ke High Street dan Hermione berhenti di depan Scrivenshaft´s Quill Shop, yang etalasenya memajang dengan indah pena-bulu ayam pegar. "Hmm... aku perlu pena-bulu baru."
Dia masuk ke dalam toko. Harry dan Ron mengikutinya.
"Yang mana Michael Corner?" Ron bertanya berang.
"Yang berkulit gelap," kata Hermione.
"Aku tak suka dia," kata Ron seketika.
"Kejutan besar," kata Hermione pelan.
"Tapi," kata Ron, mengikuti Hermione berjalan sepanjang deretan pena-bulu di dalam pot-pot tembaga, "kupikir Ginny naksir Harry!"
Hermione memandangnya agak iba dan menggeleng.
"Ginny dulu memang naksir Harry, tapi dia sudah menyerah berbulan-bulan lalu. Tentu bukan berarti dia tak suka padamu," dia menambahkan dengan baik hati kepada Harry sementara meneliti pena-bulu panjang berwarna hitam dan emas.
Harry, yang kepalanya masih dipenuhi lambaian perpisahan Cho, tidak menganggap topik ini menarik, tidak seperti Ron, yang gemetar saking jengkelnya. Tetapi pembicaraan ini menjelaskan sesuatu yang selama ini tak pernah betul-betul dipahaminya.
"Jadi, itukah sebabnya dia bicara sekarang?" Harry bertanya kepada Hermione. "Tadinya dia tak pernah bicara di depanku."
"Betul sekali," jawab Hermione. "Ya, aku mau beli yang ini…."
Dia pergi ke konter dan menyerahkan lima belas Sickle dan dua Knut, dengan Ron masih menempel di belakang.
"Ron," katanya tegas ketika dia berbalik dan menginjak kaki Ron, "inilah sebabnya kenapa Ginny tidak memberitahumu dia pacaran dengan Michael, dia tahu kau tidak akan senang. Jadi, jangan mengeluh terus soal ini."
"Apa maksudmu? Siapa yang tidak senang? Aku tidak akan mengeluh soal apapun..." Ron terus berkata pelan sepanjang jalan.
Hermione membelalakkan matanya dan berbisik kepada Harry, sementara Ron masih menggumamkan kutukan terhadap Michael Corner, "Dan ngomong-ngomong soal Michael dan Ginny... bagaimana dengan Cho dan kau?"
"Apa maksudmu?" tanya Harry cepat.
Seakan ada air mendidih yang meluap di dalam tubuhnya, ada rasa terbakar yang membuat wajahnya terasa panas di dalam udara yang dingin ini--apakah kelihatan sekali, ya?
"Yah," kata Hermione, tersenyum sedikit, "dia tak bisa melepaskan matanya darimu, kan?"
Sebelumnya Harry tak pernah menyadari, betapa indahnya desa Hogsmeade.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar